Sejarah 7 Agustus : Dibentuknya Negara Islam Indonesia

Bendera Negara Islam Indonesia Di Pengadilan (Dok. gstatic.com)

Bosscha.id-Dari sekian banyaknya pemberontakan yang terjadi pada masa awal kemerdekaan negara Republik Indonesia. Ada salah satu pemberontakan yang dikenal dengan sebutan DI (Darul Islam) / TII (tentara Islam Indonesia).

Darul Islam (DI) atau Tentara Islam Indonesia (TII) adalah gerakan yang dibentuk oleh Negara Islam Indonesia (NII).  NII berdiri di Jawa Barat, lebih tepatnya di Desa Cisampang, Kecamatan Ciawiligar, Kawedanan Cisayong, Tasikmalaya pada pada 7 Agustus 1949. NII adalah Sebuah negara yang ada dalam negara yang didirikan oleh Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo. 

Tujuan awal didirikannya NII bukan bagian dari pemberontakan terhadap Republik Indonesia atau sebagai salah satu penyebab terjadinya distegrasi nasional. NII didirikan di negara bagian Belanda karena pada tahun 1948 Indonesia terikat dengan Perjanjian Renville yang menyatakan bahwa wilayah Jawa Barat bagian dari wilayah Belanda.

Berdirinya Negara Islam Indonesia yang diikuti pembentukan DI / TII, diikuti dengan pernyataan dari berbagai wilayah di Indonesia lainnya sebagai bagian dari NII. Beberapa diantaranya ikut karena persamaan ideologi, tapi sebagian lainnya karena kekecewaannya terhadap pemerintahan Soekarno.

Kartosuwiryo dan Negara Islam Indonesia, Bosscha.id

Kelompok yang pada masa itu dianggap radikal ini mengakui syariat Islam sebagai sumber hukum dan satu-satunya pedoman yang valid. Isi Proklamasi NII di Jawa Barat, menjadi tujuan utama gerakan serupa di seluruh Indonesia.  Tujuannya, yaitu :

Mendirikan sebuah negara dengan dasar syariat Islam berupa AL Qur’an dan Hadist di wilayah Indonesia.

Sesuai dengan namanya, NII berdiri dengan tujuan mendirikan negara Islam di Indonesia.  Sebuah negara yang semua hukum dan aturannya berdasarkan Al Qur’an dan Hadist.  Ini mengingat bahwa Bangsa Indonesia mayoritas penduduknya beragama Islam.  Seharusnya ada kewajiban bahwa seluruh masyarakat Islam mempunyai tanggung jawab menjalankan kewajiban syariatnya.  Tidak berlaku bagi golongan non Islam.  Kartosuwiryo berkeyakinan bahwa mendirikan Negara Islam Indonesia akan menyelesaikan semua masalah kenegaraan yang sedang berlangsung.

Baca Juga:   Dampak Covid-19, RPJMD KBB 2018-2023 Direvisi

Menolak Perjanjian Renville

Selain tujuan pertama untuk penegakkan syariat Islam, pendirian NII bertujuan menolak dampak Perjanjian Renville yang ditandatangani tahun 1948 menggantikan Perjanjian Linggarjati yang dihianati dengan adanya Agresi Militer Belanda I.  Isi perjanjian Renville menyatakan bahwa Jawa Barat bukan menjadi bagian dari wilayah NKRI.  Tentu saja hal tersebut mengecewakan penduduk wilayah Jawa Barat.

Sementara Presiden Soekarno, seperti halnya dalam Perjanjian Linggarjati meminta seluruh rakyat menerima perjanjian tersebut.  Kartosuwiryo yang mempunyai pengaruh di daerah Tasikmalaya, tidak setuju.  Perjanjian Renville memberi kesempatan untuk mendirikan NII.  Sebuah negara yang benar-benar ingin lepas dari NKRI.

Mengatasi Dominasi Komunis dan Sosialis

Tujuan selanjutnya pendirian NII adalah mengatasi dominasi sistem politik komunis dan ciri-ciri ideologi sosialis yang mulai terlihat dalam pemerintahan Soekarno.  Kartosuwiryo mengetahui hal tersebut karena sejatinya bersama dengan Soekarno dan DN Aidit, mereka berasal dari guru yang sama.  Kartosuwiroyo menganggap, dominasi komunis dan sosialis akan menghancurkan kehidupan berbangsa dan bernegara.  Penolakan Kartosuwiryo dengan cara mendirikan sebuah negara dalam negara termasuk kategori pemberontakan.   Pemberontakan DI / TII ini disebut sebagai pemberontakan golongan kanan. Komunis, disebut sebagai pemberontak golongan kiri.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password