Sejarah 6 Agustus : Wafatnya Penyair Legendaris W.S Rendra

WS Rendra Tutup Usia Pada 6 Agustus Di Depok, Jawa Barat. (dok. Istimewa)

Bosscha.id-Hari ini 10 tahun silam, tepatnya tanggal 6 Agustus 2009, Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya. Pasalnya di hari itu Willibrordus Surendra Broto Rendra alias WS Rendra wafat pada usia 73 tahun, di Depok, Jawa Barat.

Rendra adalah seorang penyair lintas generasi. Sedari muda, dia sudah menulis puisi, skenario drama, cerpen, dan esai sastra di berbagai media massa. Pernah mengenyam pendidikan di Universitas Gajah Mada (UGM), dan dari sana pulalah dia menerima gelar Doktor Honoris Causa.

WS Rendra Si Burung Merak

Penyair yang dijuluki “Si Burung Merak”, ini mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta pada tahun 1967. Melalui Bengkel Teater itu, Rendra melahirkan banyak seniman antara lain Sitok Srengenge, Radhar Panca Dahana, Adi Kurdi, dan lain-lain. Dan ketika kelompok teaternya itu mulai kocar-kacir karena tekanan politik, ia memindahkan Bengkel Teater ke Depok, pada Oktober 1985.

Rendra adalah anak dari pasangan R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharina Ismadillah. Ayahnya adalah seorang guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa pada sekolah Katolik di Solo, juga sebagai dramawan tradisional, sedangkan ibunya adalah penari serimpi di Keraton Surakarta Hadiningrat.

Masa Kecil WS Rendra

Bakat sastra Rendra sudah terlihat sejak ia masih duduk di bangku SMP. Saat itu ia sudah mulai menunjukkan kemampuannya dengan menulis puisi, cerita pendek, dan drama untuk berbagai kegiatan sekolahnya. Bukan hanya menulis, ternyata ia juga piawai di atas panggung. Ia mementaskan beberapa dramanya, dan terutama tampil sebagai pembaca puisi yang sangat berbakat.

Tahun 1952 adalah kali pertama Ia mempublikasikan puisinya di media massa, melalui majalah Siasat. Setelah itu, puisi-puisinya pun lancar mengalir menghiasi berbagai majalah pada saat itu, antara lain; Kisah, Seni, Basis, Konfrontasi, dan Siasat Baru. Hal itu terus berlanjut seperti terlihat dalam majalah-majalah pada dekade selanjutnya, terutama majalah tahun ’60-an dan tahun ’70-an.

Baca Juga:   Google Doodle Hari Ini, Apresiasi Terhadap Dedikasi Benyamin S Terhadap Seni dan Budaya Betawi
Si Burung Merak, WS Rendra Tutup Usia Dengan Banyak Karya, Bosscha.id

‘Kaki Palsu’ adalah drama pertamanya, yang dipentaskan ketika ia SMP, dan ‘Orang-orang di Tikungan Jalan’ adalah drama pertamanya yang mendapat penghargaan dan hadiah dari Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta. Pada saat itu ia sudah duduk di SMA. Penghargaan itu membuatnya sangat bergairah untuk berkarya.

WS Rendra Di Kancah Internasional

Karya-karya Rendra tidak hanya terkenal di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Banyak karyanya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, di antaranya bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Jepang, dan India.

Ia juga aktif mengikuti festival-festival di luar negeri, di antaranya The Rotterdam International Poetry Festival (1971 dan 1979), The Valmiki International Poetry Festival, New Delhi (1985), Berliner Horizonte Festival, Berlin (1985), The First New York Festival Of the Arts (1988), Spoleto Festival, Melbourne, Vagarth World Poetry Festival, Bhopal (1989), World Poetry Festival, Kuala Lumpur (1992), dan Tokyo Festival (1995).

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password