Sejarah 11 Juli : Penjelajahan Laksamana Cheng Ho Sebagai Muslim Asal Tiongkok

Penjelajah Muslim Asal Tiongkok, Bosscha.id

Bosscha.id-Laksamana Cheng Hwa (Cheng Ho) bukan nama asing di Indonesia, namanya dikenang karena berjasa besar dalam penyebaran Islam di wilayah Jawa Barat (Jabar). Laksamana dari kekaisaran Cina itulah yang pertama kali membawa dua mubalig penyebar agama Islam ke Jabar, yakni Syekh Quro dan Syekh Nurjati.

Cheng Ho adalah seorang kasim muslim yang menjadi orang kepercayaan Kaisar Yongle dari Tiongkok (berkuasa tahun 1403-1424), kaisar ketiga dari Dinasti Ming. Nama aslinya adalah Ma He, juga dikenal dengan sebutan Ma Sanbao (馬 三保)/Sam Po Bo, berasal dari provinsi Yunnan. Ketika pasukan Ming menaklukkan Yunnan, Cheng Ho ditangkap dan kemudian dijadikan orang kasim. Cheng Ho adalah keturunan suku Hui, suku bangsa yang secara fisik mirip dengan suku Han, tetapi memeluk agama Islam.

Cheng Ho adalah salah satu penjelajah asli China yang kehebatannya diakui oleh dunia. Di abad ke-15 ia berhasil menjelajahi banyak sekali wilayah di Asia, termasuk Indonesia. Cheng Ho dikenal sebagai seorang yang sangat baik. Berbeda dengan penjelajah lain dari Eropa yang selalu ingin menjarah dan membuat kekacauan di tempat mereka mendarat.

Asal-Usul Cheng Ho

Cheng Ho memiliki nama asli Ma Sanbao, atau sering dijuluki dengan nama Ma He. Ia merupakan orang asli Yunnan yang saat itu banyak penduduknya beragama Islam. Saat pasukan Kerajaan Ming berhasil menaklukkan wilayah itu, Cheng Ho ditangkap dan dijadikan seorang kasim.

Lambat laun karier Cheng Ho meningkat dengan tajam, ia dikenal sangat kuat dan juga pemberani. Saat kerajaan Tiongkok mulai runtuh akibat Dinasti Mongol, Cheng Ho menawarkan diri untuk keliling dunia dan melakukan perbaikan-perbaikan. Terutama untuk negeri yang pernah bersahabat dengan Tiongkok.

Kaisar yang berkuasa saat itu tentu senang dan tak bisa menolak apa saja yang Cheng Ho inginkan. Akhrinya, ia dibekali kapal yang besar dan mengemban amanah untuk menjadikan Tiongkok kembali berkibar di dunia.

Armada Cheng Ho

Berbeda dengan pelayaran yang dirintis pelaut-pelaut Eropa menjelang Abad Kolonialisme, armada Cheng Ho tidak bertujuan monopoli dagang atau penjajahan. Kekaisaran Ming menghormati kedaulatan tiap-tiap penguasa setempat yang didatangi Cheng Ho. Tokoh Muslim ini lebih sebagai utusan sang kaisar untuk memperkenalkan kemajuan dan ketinggian budaya Dinasti Ming kepada negeri-negeri luar. Tujuannya adalah peningkatan hubungan diplomasi dan perdagangan mereka dengan Cina.

Cheng Ho memimpin armada kapal yang jumlahnya kurang lebih ada 307. Dari kapal itu, jumlah pasukan yang ia bawa mencapai 27.000 orang. Cheng Ho sendiri menaiki kapal terbesar dengan panjang sekitar 120 meter dan lebar 50 meter. Kapal ini terbuat dari rangkaian bambu yang disusun dengan sangat kuat.

Selama penjelajahan, mereka membawa banyak sekali bekal makanan dan juga binatang yang bisa dikonsumsi selama berada di lautan. Selain itu, mereka juga membawa banyak sekali kain sutra mahal yang bisa dijual jika nantinya mendarat.

Kisah Penjelajahan Cheng Ho

Mulai tahun 1405 hingga 1433, Cheng Ho telah melakukan 7 pelayaran. Pelayaran pertama yang dilakukan Cheng Ho memakan waktu sekitar 2 tahun dengan daerah yang dijelajahi Champa, Jawa, Palembang, Malaka, Aru, hingga Kollam yang berada di India.

Dari tujuh penjelajahan yang dilakukan oleh Cheng Ho, 6 di antaranya mendarat di Jawa. Pada pelayaran ke-6 di tahun 1421-1422 dikatakan jika Cheng Ho datang ke Jazirah Arab, hingga akhirnya ia mendapatkan gelar haji dan memiliki nama lain Haji Hamud Syams.

Cheng Ho dan Indonesia

Cheng Ho mengunjungi Nusantara (Kepulauan Indonesia) sebanyak tujuh kali. Ketika singgah di Samudera Pasai, ia menghadiah Sultan Aceh sebuah lonceng raksasa “Cakra Donya”, yang hingga kini tersimpan di museum Banda Aceh. Tahun 1415, Cheng Ho berlabuh di Muara Jati (Cirebon), dan menghadiahi beberapa cindera mata khas Tiongkok kepada Sultan Cirebon.

Salah satu peninggalannya, sebuah piring keramik yang bertuliskan ayat Kursi masih tersimpan di Keraton Kasepuhan Cirebon. Pernah dalam perjalanannya melalui Laut Jawa, Wang Jinghong (orang kedua dalam armada Cheng Ho) sakit keras. Wang akhirnya turun di pantai Simongan, Semarang, dan menetap di sana. Salah satu bukti peninggalannya antara lain Kelenteng Sam Po Kong (Gedung Batu) serta patung yang disebut Mbah Ledakar Juragan Dampo Awang Sam Po Kong.

Infografis Penjelajahan Laksamana Cheng Ho di Nusantara, Bosscha.id

Cheng Ho juga sempat berkunjung ke Kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan raja Wikramawardhana.

Keterkaitan Syekh Quro dengan Syekh Nurjati

Syekh Quro dan Syekh Datuk Kahfi adalah saudara seketurunan dari Amir Abdullah Khanudin generasi keempat. Syekh Quro datang terlebih dahulu ke Amparan bersama rombongan dari angkatan laut Cina dari Dinasti Ming yang ketiga dengan Kaisarnya, Yung Lo (Kaisar Cheng-tu). Armada angkatan laut tersebut dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho alias Sam Po Tay Kam.

Mereka mendarat di Muara Jati pada tahun 1416 M. Mereka semua telah masuk Islam. Armada tersebut hendak melakukan perjalanan melawat ke Majapahit dalam rangka menjalin persahabatan. Ketika armada tersebut sampai di Pura Karawang, Syekh Quro (Syekh Hasanudin) beserta pengiringnya turun.

Syekh Quro pada akhirnya tinggal dan menyebarkan ajaran agama Islam di Karawang. Kedua tokoh ini dipandang sebagai tokoh yang mengajarkan Islam secara formal yang pertama kali di Jawa Barat. Syekh Quro di Karawang dan Syekh Nurjati di Cirebon.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password