Dampak Perang Harga, Pemain Daging Olahan Berguguran

Ilustrasi daging olahan. ©Shutterstock/gresei

Bosscha.id-Pebisnis di sektor daging olahan menilai banyak pemain daging olahan yang gulung tikar akibat perang harga.

Seperti dilansir Bisnis.com, Direktur Utama PT Sentra Food Indonesia Tbk. Agustus Sani Nugroho mengungkapkan bahwa hal tersebut disebabkan oleh maraknya pelaku industri daging olahan yang membuat produk daging bertarung di pasar jenuh segmen menengah. Namun demikian, lanjutnya, hal tersebut tidak berdampak kepada performa perseroan.

“Terdapat pola-pola perang harga yang terlihat [di pasaran]. Di satu titik [perang harga] akan memberatkan perekonomian mereka sendiri,” jelasnya, Rabu (19/6/2019).

Menurutnya, faktor harga menjadi pertimbangan utama konsumen menjadi tantangan bagi pelaku industri pengolahan daging. Hal tersebut, imbuhnya, dinilai menjadi tantangan utama di industri pengolahan daging karena setiap tahun hampir bisa dipastikan elemen biaya naik. “Jadi, produsen daging olahan mesti dapat menyeimbangkannya,” ujarnya.

Sebelumnya, Direktur Utama PT Estika Tata Tiara Tbk. Yustinus Sadmoko menuturkan, saat ini persaingan antarpabrikan semakin tinggi. Hampir setiap bulan muncul pemain baru. 

Dia pun meminta pemerintah untuk menjadi regulator dan wasit yang adil dan bijak. Kepentingan konsumen, lanjutnya, harus seimbang dengan kepentingan produsen. “Jangan jadikan harga murah menjadi target lagi, beri ruang yang cukup untuk berkompetisi,” kata Yustinus.

Baca Juga:   Pendaftaran Kartu Prakerja Gelombang 10 Sudah Dibuka

Dia menambahkan, perubahan pola konsumsi masyarakat milenial juga harus diperhatikan para pabrikan pengolahan daging. “Selain itu, dampak dari media sosial yang cepat menyebarkan berita negatif juga menjadi tantangan tersendiri,” jelasnya.

Sebelumnya, Ketua Gabungan Pengusaha Makananan dan Minuman Seluruh Indonesia Adhi S. Lukman mengatakan, pada awal tahun ini pabrikan makanan olahan mulai menaikkan harga jual produknya sebesar 3%–5%. 

Selama tahun lalu, produsen telah menahan kenaikan harga dan mengorbankan margin keuntungan untuk menjaga volume penjualan. “Faktornya kan tidak hanya pelemahan rupiah saja, tetapi juga biaya lain seperti upah tenaga kerja,” katanya.

Adapun, secara keseluruhan industri mamin diperkirakan tumbuh sebesar 9,86% secara tahunan sepanjang tahun ini.

Source: Bisnis.com

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password