Menolak Lupa! Napak Tilas Tragedi Mei 1998

Bosscha: Menolak Lupa Tragedi Mei 1998

Bosscha.idMasih lekat diingatan Mei 1998, sejak masyarakat menerima kabar ada empat mahasiswa Universitas Trisakti gugur tertembak aparat dan puncak dari peristiwa reformasi 1998 adalah aksi para mahasiswa menduduki Gedung DPR/MPR RI. 

Situasi Jakarta pun semakin mencekam. Saat itu, mahasiswa yang bergerak dari Kampus Trisakti di Grogol menuju ke Gedung DPR/MPR di Slipi, dihadang aparat kepolisian dan militer, yang meminta mereka kembali ke kampus. Situasi ini muncul karena buah dari Tragedi Trisakti. Saat itu kerusuhan besar tak bisa dihindari, termasuk di sejumlah daerah lain.

Bersamaan dengan aksi mahasiswa, sepanjang 12 Mei 1998 dari malam hingga pagi hari, masyarakat mengamuk dan melakukan perusakan di daerah Grogol dan terus menyebar hingga ke seluruh kota Jakarta, lantaran kecewa dengan tindakan aparat yang menembak mati mahasiswa. 

Pendudukan Gedung DPR/MPR RI

Peristiwa itu berawal pada 18 Mei 1998 saat mahasiswa mulai menguasai Kompleks Parlemen dan menduduki gedung DPR/MPR untuk mendesak Soeharto mundur dari jabatannya sebagai Presiden RI.

Sumber Foto: Net

Maka sejak 19 Mei 1998, arus kedatangan mahasiswa terus mengalir deras ke Gedung DPR/MPR. Mereka tidak hanya datang dari kawasan Jabodetabek semata, tapi juga ada yang dari Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur bahkan ada yang khusus datang dari luar pulau Jawa. Hingga menjelang detik-detik pengunduran diri Soeharto sebagai presiden, massa mahasiswa yang sudah terkumpul mencapai jumlah kira-kira 60.000 orang.

Akhirnya, pada 21 Mei 1998, ketika Soeharto memutuskan mundur setelah 32 tahun berkuasa, suasana riuh para mahasiswa pun pecah di atap gedung tersebut yang menyerupai kura-kura untuk merayakan mundurnya Soeharto.

Pendudukan mahasiswa terhadap Gedung DPR/MPR tidaklah berlangsung lama. Dua hari setelah lengsernya Soeharto sebagai presiden, nyatanya massa mahasiswa bisa “diusir” secara mudah oleh tentara.

Panasnya Suasana di Pasar Glodok

Baca Juga:   Kasus Covid-19 Bertambah, Ruang Isolasi RSUD Cililin Overload

Hari-hari terpanjang dan gelap di Jakarta tidak hanya dialami oleh para aktivis. Etnis Tionghoa pun jadi korban dari kerusuhan itu, di mana banyak toko dan perusahaan mereka yang dijarah dan dihancurkan oleh amuk massa. Bahkan, terdapat ratusan wanita keturunan Tionghoa yang diperkosa dan mengalami pelecehan seksual dalam kerusuhan itu.

Pusat dagang yang kerap dikunjungi etnis Tionghoa itu dijarah dan dibakar oleh massa yang merangsek datang ke sana. Semua barang yang ada di dalam berbagai pusat perbelanjaan dan pertokoan habis dijarah.

Sumber Foto: Net

Aksi pembakaran tersebut bahkan meluas hingga ke kawasan Petak Sembilan, Asemka, dan hampir menyentuh wilayah Kota. Bangunan yang rusak parah adalah Glodok Plaza, Pasar Jaya, dan City Hall. Aksi tersebut dilakukan secara sengaja oleh sekumpulan orang yang tidak bisa dikenali identitasnya.

Meski akhirnya situasi tak banyak berubah, aparat keamanan mencoba untuk membubarkan massa dengan tembakan peringatan. Kumpulan massa akhirnya bubar saat aparat melepaskan tembakan ke kerumunan massa.

Kuburan Massal Tanpa Nama

Sumber Foto: Net

Ada total 113 makam dari korban kerusuhan 1998 di Pondok Ranggon. Meski begitu, kabarnya jumlah jenazah yang dimakamkan bisa lebih dari itu, karena dalam satu peti mati ada beberapa jenazah korban yang dikuburkan bersama. Di setiap makam hanya ditulis “Korban Tragedi 13-15 Mei 1998 Jakarta” karena identitas yang tak diketahui.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password