“Affirmative Action” 30 Persen Suara Perempuan di Legislatif KBB 2019 Belum Terpenuhi

30 Persen Suara Perempuan di Legislatif KBB 2019 Belum Terpenuhi
Bosscha: 30 Persen Suara Perempuan di Legislatif KBB 2019 Belum Terpenuhi

Bosscha.id – Keterwakilan perempuan di lembaga legislatif hingga kini masih belum terpenuhi. Seperti di Kabupaten Bandung Barat proporsi anggota legislatif perempuan gagal mencapai affirmative action 30 persen pada Pileg 2019.

Dengan tidak terpenuhinya 30 persen suara perempuan di legislatif, disayangkan Ketua Kaukus Politik Perempuan Indonesia KBB, Eka Mariayati. Padahal menurut Eka, idealnya anggota legislatif perempuan bisa mencapai 11 kursi di DPRD.

“Walaupun saat ini kursi perempuan di DPRD KBB menjadi 5 kursi dari yang sebelumnya hanya terdapat 2 kursi. Namun, kondisi tersebut masih jauh dari harapan,” kata Eka kepada Bosscha.id, Rabu (8/5/2019).

Ia mengungkapkan, gagalnya suara 30 persen perempuan disebabkan beberapa faktor.

“Yang paling mempengaruhi adalah tentang mindset masyarakat. Pemahaman-pemahaman di masyarakat  harus di buka tentang perempuan yang mana perempuan juga bisa mewakili suara masyarakat di legislatif,” ungkapnya.

Adapun Eka mendorong, agar perempuan yang sekarang terpilih menjadi legislator bisa menempati jabatan strategis seperti ketua. Apalagi, saat ini perempuan sudah mampu bersaing dengan laki-laki.

Eka Mariayati, Ketua Kaukus Politik Perempuan Indonesi KBB
Bosscha: Eka Mariayati, Ketua Kaukus Politik Perempuan Indonesia KBB

“Jika memang perempuan bisa menjadi ketua komisi atau ketua banggar, saya kira itu sangat bagus. Karena, kalau sudah terpilih, mau tidak mau mereka harus bisa juga menjadi unsur pimpinan. Karena jangan sampai di dewan hanya menjadi sebatas pelengkap saja,” ujar Eka seraya menyebut PKS memiliki kursi paling banyak di DPRD KBB dengan jumlah sebanyak 8 kursi.

Baca Juga:   2021 KBB Terapkan SIPD

Eka menambahkan, selama ini kaukus politik kerap memberikan pembekalan terhadap anggotanya. Hal itu dilakukan agar setiap caleg berkualitas dan mampu menguasai tupoksi.

“Pada saat terpilih, jadi tidak malu-maluin. Saya lebih menekankan agar mereka mampu dan jangan sampai dipandang sebelah mata oleh laki-laki.Sehingga hak-hak perempuan tidak bisa diperjuankan di legislatif,” katanya.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password