Chairil Anwar: Aku Ini Binatang Jalang, Playboy Kelas Kakap dan Hari Puisi Nasional

Aku Ini Binatang Jalang, Playboy Kelas Kakap dan Hari Puisi Nasional

Bosscha.id – Tanggal 28 April yang menjadi tanggal wafatnya Chairil Anwar pada tahun 1949. Diperingati Hari Puisi Nasional di Indonesia untuk menghargai peran besar legenda penyair Indonesia, Chairil Anwar. Hampir semua pecintra sastra sudah sepakat menganggap Chairil Anwar adalah penyair tersohor di bumi Nusantara ini.

Puisi itu dapat diibaratkan seperti bunga. Jika diberikan kepada seorang cewek, merona-ronalah hatinya. Puisi juga dapat disamakan dengan sebuah lagu. Jika “diputar”, terdengar merdu di kuping kita. Puisi telah membuktikkan kepada kita bahwa kata-kata bukanlah sekedar alfabet yang bergabung menjadi satu bagan rapih, melainkan sebuah karya yang bisa membuat hati kita jernih.

Ilustrasi Chairil Anwar
Ilustrasi Chairil Anwar, Sumber Foto: Net

Chairil Anwar merupakan seorang seniman terkenal dari Indonesia, karya-karya dari Chairil Anwar sangatlah banyak. Chairil Anwar mendapati julukan “Si Binatang Jalang” dalam karyanya, yaitu “Aku”. Terhitung karya Chairil Anwar sebanyak 94 karya, dan 70 Puisi. Chairil Anwar mulai dikenal dalam dunia sastra setelah dirinya menulis di Majalah Nisan pada 1942 silam, ketika itu Chairil masih berumur 20 tahun.

Chairil Masa Kecil

Chairil lahir di Medan, Sumatera Utara pada tahun 26 Juli 1922. Dibesarkan dalam keluarga yang tidak harmonis, Bapak dan Ibunya bercerai, Chairil Anwar memutuskan untuk ikut bersama ibunya ke Jakarta. Ketika Chairil Anwar masih tinggal di Medan, dirinya sangat dekat dengan neneknya, kedekatan tersebut membawa kesan bagi hidup Chairil Anwar.

Hingga sang Nenek di panggil oleh Yang Maha Kuasa, Chairil Anwar yang sebelumnya jarang merasakan duka berubah menjadi Chairil Anwar yang berkabung hebat. Bahkan dia menggambarkan kesedihannya dengan puisi. Selepas neneknya meninggal, Ibunya adalah orang kedua yang paling Chairil cintai. Beberapa karya Chairil Anwar juga dibuat untuk menunjukkan rasa cinta terhadap ibunya. 

puisi aku, chairil anwar
Bosscha: Puisi Chairil Anwar Berjudul “AKU”

Chairil Playboy Kelas Kakap

Bukan hanya sekarang bahasa yang puitis dijadikan senjata untuk mendekati wanita, Chairil muda dengan penampilanya yang nyentrik nan flamboyan membuat mata siapa saja terpana saat melihatnya. Hal itu kemudian yang dimanfaatkan ‘Si Binatang Jalang’ ini untuk mencuri hati pemudi-pemudi, yang tertambat pada kecakapan akal serta parasnya.

Dalam buku Aku yang ditulis oleh Sjuman Djaya, ada sekitar delapan nama perempuan yang konon cantik jelita yang berkelindan di hidup seorang Chairil. Sri Ayati, seorang penyiar radio jepang. Dian Tamela, dan puisi berjudul Cerita Buat Dien Tamela. Ida Nasution, yang ia puja hingga akhir hayatnya. Gadis Rasid yang ia temukan di ruang redaktur majalah Gelanggang, Tuti Artic dan Ceritanya yang pendek. Karina Moordjono si putri dokter. Sumirat, pemilik Sajak Putih. Dan Hapsah Wiriaredja, yang dinikahinya dan dipanggil dengan sebutan ‘Gajah’.

Baca Juga:   Terduga Pelaku Bom di Medan Pengemudi Ojol dan Penjual Bakso

Dibalik Tulisan Bung, Ayo Bung!

Lukisan Affandi, Boeng Ajo Boeng!
Lukisan Affandi, “Boeng Ajo Boeng!”, Sumber Foto: Net

Affandi, maestro lukis dari Indonesia pernah di minta Presiden Soekarno untuk membuat lukisan bertema kemerdekaan.  Dan kemudian, Affandi mengambar seorang tokoh yang tengah memutus rantai seraya berteriak lantang. Tapi, itu belum selesai. Ia membutuhkan kata-kata agar gambarnya lebih bernyawa. Kemudian, dikumpulkanlah banyak penulis untuk memikirkan kata-katanya. Kemudian tak ada satupun usulan dari mereka yang dirasa cocok oleh Affandi. 

Affandi bertanya ke Chairil yang saat itu datang tiba-tiba. “Apa kata yang cocok untuk lukisan ini, Ril,” tanya Affandi. Tanpa menoleh ke wajahnya, Chairil mendekati lukisan itu. Ia menatap wajah semua penulis yang sembari tadi duduk di kursi tanpa solusi. “Tulis saja. ‘Boeng, Ajoe Boeng! (Bung, Ayo Bung!)’” kata Chairil.

Chairil Anwar: Aku Ini Binatang Jalang, Playboy Kelas Kakap dan Hari Puisi Nasional 18
Bosscha: Sejarah Singkat Chairil Anwar

Affandi pun terperangah. Ia pun kemudian menuruti usul Chairil.  Dan ia melenggang pergi. Usut punya usut, saat ditanya Affandi dari mana ia dapat kata itu. Dengan ringan Chairil menjawab. “Dari pelacur yang aku tiduri di gerbong kotor tadi malam,” katanya enteng saja.

Akhir Hidup Chairil Anwar

Vitalitas puitis Chairil tidak pernah diimbangi kondisi fisiknya, yang bertambah lemah akibat gaya hidupnya yang semrawut. di tengah bersinarnya karya-karyanya, ia malah menderita berbagai macam penyakit. Ia didiagnosa menderita TBC, Tifus dan gangguan usus kronis. Penyakit usus kronis inilah yang membawanya kepada kematian pada 28 April 1949 karena ususnya pecah.. Chairil Anwar meninggal dalam usia muda dan dikuburkan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta. 

Setelah kematiannya Chairil melahirkan pujangga-pujangga muda. Ada dan berlipat ganda.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password