Bahaya Malaria Ala Harry Roesli

Bahaya Malaria Ala Harry Roesli
Bosscha: Bahaya Malaria Ala Harry Roesli

Bosscha.id – Tak ada kaitannya secara langsung memang dengan tanggal 25 April dimana hari ini diperingati sebagai Hari Malaria Sedunia. Namun membaca kata malaria sekelebat terpikir nama Almarhum Harry Roesli dengan salah satu Karyanya Malaria. Lagu yang terdapat di album perdana Gang of Harry Roesli bertajuk “Philosophy Gang” yang dirilis oleh Lion Record Singapore pada tahun 1973.

Harry Roesli yang memiliki nama lengkap Djauhar Zaharsyah Fachrudin Roesli, (lahir di Bandung, 10 September 1951 – meninggal di Jakarta, 11 Desember 2004 pada umur 53 tahun) adalah tokoh dikenal melahirkan budaya musik kontemporer yang berbeda, komunikatif dan konsisten memancarkan kritik sosial. Karya- karyanya konsisten memunculkan kritik sosial secara lugas dalam watak musik teater lenong. 

Profil, Bahaya Malaria Ala Harry Roesli
Bosscha: Profil Harry Roesli

Kecerdasan Harry Roesli dalam meracik musik dan menulis lirik dibuktikan di lagu Malaria, walau berjudul Malaria pemaknaan lagu tersebut masih menjadi perdebatan di mata pendengarnya. Lagu ini masuk di peringkat nomor 44 majalah Rolling Stone Indonesia sebagai salah satu lagu Indonesia terbaik sepanjang masa.

Simak lirik Bahaya Malaria Ala Harry Roesli berikut ini :

seprei tempat tidurmu putih
itu tandanya kau bersedih
mengapa tidak kau tiduri
kau hanya terus menangis

apakah kau seekor monyet,
yang hanya dapat bergaya
kosong sudah … hidup ini,
bila kau hanya bicara

guling bantalmu akan bertanya,
apa yang kaupikirkan nona?
kau hanya bawa airmata dan ketawa yang kau paksa

lantai kamarmu kan berkata,
mengapa nona pengecut?
lanjutkan saja hidup ini sebagai nyamuk malaria……….



Mengingat bahaya Malaria yang ditimbulkan oleh nyamuk kecil, dalam lagu Malaria ia menyiratkan bahwa, walaupun kecil, nyamuk bisa menyebabkan penyakit yang mematikan. Setelah kesadaran dan keberanian muncul di dalam diri yang merasa kecil, tentunya hal-hal hebat bisa dicapai.

Baca Juga:   Sang Kaisar Mongol, Penguasa Asia Tenggara dan Eropa Tengah, Siapakah Kubilai Khan?
Gang of Harry Roesli Philosophy Gang 1973
Gang of Harry Roesli “Philosophy Gang” 1973, Sumber Foto: Net

Tampak lugas dan sederhana namun ternyata mengandung arti yang sangat mendalam tentang nasib negara indonesia pada waktu itu. Melalui lagu ini, Harry Roesli memanggil masyarakat untuk sadar akan kekuatan yang ada di dalam diri kita masing-masing. Pada penggalan lirik “Apakah kau hanya seekor monyet yang hanya dapat bergaya, kosong sudah hidup ini bila kau hanya bicara… lanjutkan saja hidup ini sebagai nyamuk malaria”  yang terasa sebagai sindiran kepada sikap diam dan tak peduli orang Indonesia tentang permasalahan yang ada. 

The Gang of Harry Roesli
The Gang of Harry Roesli, Sumber Foto: Net

Harry Roesli memang sangat pandai dan mahir dalam memainkan kata, banyak “kenakalan” dan kemahiran artistik juga intelektual yang disajikan dengan nuansa satir menjadi ujung tombak karirnya yang bergema selama berpuluh-puluh tahun.

Sampai akhir hayatnya, Harry Roesli terus menebarkan faham bahwa musik dia adalah suatu karya seni yang inklusif menyangkal pendapat umum bahwa karya-karyanya adalah seni yang ‘tinggi’ dan serba intelek. Audiens yang beragam dan pandangan yang berbeda-beda telah dijembatani oleh Harry Roesli dari tahun ke tahun dalam semangat keadilan sosial.  

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password