Wisata Ziarah: Singgahi Makam Pangeran Raja Atas Angin di Bandung Barat

Wisata Ziarah: Singgahi Makam Pangeran Raja Atas Angin
Bosscha: Makam Pangeran Raja Atas Angin

Bosscha.id – Kabupaten Bandung Barat bukan hanya mempunyai wisata alam sebagai aset pariwisatanya, akan tetapi banyak sekali aset diluar dari wisata alam yang harus dijaga dan dikembangkan sebagai objek pariwisata.

Wisata kultural seperti wisata ziarah adalah salah satu objek pariwisata yang seharusnya dibidik sebagai aset, melihat animo dari wisata ziarah di Indonesia khususnya di Kabupaten Bandung Barat masih besar. Salah satu dari lokasi ziarah makam yang banyak dikunjungi adalah Makam Pangeran Raja Atas Angin di kecamatan Cipongkor.

Makam Syekh Maulana Raden Muhammad Syafei berada di RT 07/RW 07, Desa Cijenuk, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat. Di sebelah makam sang pangeran, terdapat makam istrinya yakni Nyimas Rangga Wuluh. Bukti peninggalan dari tokoh awal penyebar Islam ini berupa makam keramat yang banyak diziarahi.

Makam Syekh Maulana Muhammad Syafei kini sudah menjadi salah satu objek wisata religi di Kabupaten Bandung Barat. Ratusan peziarah datang dari berbagai daerah di Jawa Barat, bahkan berbagai pelosok Indonesia. Termasuk Batam, Padang, Aceh, Gorontalo, dan masih banyak lagi. Dalam waktu tertentu, terutama pada bulan Rabiul Awal (Mulud), makam-makam keramat ini seringkali diziarahi oleh masyarakat dalam jumlah yang lebih besar

Dikemukakan bahwa tokoh utama yang dikatakan sebagai pembawa ajaran Islam atau pelopor dakwah Islam bernama Syekh Maulana Raden Muhammad Syafei atau yang dikenal pula Eyang Dalem Cijenuk. Diceritakan bahwa Eyang Dalem Cijenuk berperan menyampaikan dakwah pada beberapa wilayah di daerah ini.

Makam Pangeran Raja Atas Angin di Bandung Barat
Bosscha: Wisata Ziarah ke Makam Pangeran Raja Atas Angin

Menurut sumber informasi yang didapatkan dari buku dokumen  (Buku tuntuan Ziarah Kubur yang diterbitkan Yayasan Syekh Maulana Muhammad Syafei. ) yang terdapat di Kesultanan yang memuat nama gelar Syekh Maulana Raden Muhammad Syafei, yakni Pangeran Raja Atas Angin.

Sejak saat itu, diterbitkan surat keputusan yang memuat pengakuan dari Kesultanan Kanoman bahwa Pangeran Raja Atas Angin merupakan keturunan dari Kesultanan Cirebon. Pengakuaan ini diperkuat dengan kehadiran petugas Kesultanan Cirebon pada beberapa tahun setelah itu untuk memandu langsung setiap pelaksanaan haol (pertemuan tahun) Syekh Maulana Muhammad Syafei.

Menurut cerita yang berkembang, Syekh Maulana Muhammad Syafei pada dasarnya merupakan putra mahkota yang kelak berhak untuk menempati singgasana kesultanan. Namun karena mendapat petunjuk dari leluhurnya agar keluar dari lingkungan keraton untuk menyebarkan ajaran Islam, akhirnya sang pangeran memutuskan untuk pergi menuju arah selatan melewati daerah pedalaman Pandeglang, Labah, Bogor, Cianjur, Surade Sukabumi hingga Cisewu Garut. Konon, rute ini merupakan jalur yang biasa dipergunakan Syekh Maulana Yusuf untuk menghindari pengejaran pasukan penjajah Belanda. 

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password