Tingkatkan Partisipasi KB Melalui Distribusi Alat Kontrasepsi ke Pelosok Desa KBB

Tingkatkan Partisipasi KB Melalui Distribusi Alat Kontrasepsi ke Pelosok Desa KBB 19

Bosscha.id– Permintaan alat kontrasepsi mulai dari alat kontrasepsi jenis suntik, pil hingga kondom di sejumlah daerah di Kabupaten Bandung Barat meningkat pada tahun ini. Pemkab Bandung Barat rencananya akan mendistribusikan ratusan ribu alat kontrasepsi ke 16 kecamatan pada tahun ini.

“Distribusi alat kontrasepsi saat ini sudah disalurkan ke setiap fasilitas kesehatan seperti puskesmas di setiap kecamatan.Untuk ketersedian alat kontrasepsi aman sesuai peserta KB (mencapai ratusan ribu),” kata Kabid KB dan KR (Kesehatan Reproduksi), Aam Lia pada Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak KBB di Ngamprah, Sabtu (13/4/2019).

Menurut Lia, terus bertambahnya permintaan alat kontrasepsi setiap tahunnya tak terlepas dari adanya migrasi ke Bandung Barat. Di Bandung Barat saat ini banyak bermunculan sektor perumahan, serta adanya proyek Kereta Cepat yang para pekerjanya menjadi warga Bandung Barat.

“Dan adanya imigrasi itu akan jadi sasaran kami sebagai peserta KB baru,” ucapnya.

Berdasarkan data DPPKBP3A saat ini total pasangan usia subur (PUS) mencapai angka 321.519 pasangan. Sementara, peserta aktif program keluarga berencana (KB) atau akseptor, baru tercapai diangka 236.081 pasangan atau baru tercapai 73,43 persen melebihi target nasional dan Jawa Barat.

Aam mengatakan, pada tahun ini setidaknya ada tambahan PPM (perkiraan permintaan masyarakat) sekitar 36.000 PUS baru.

“Sekarang seserta KB terbanyak di Lembang dan Ngamprah. Sementara, terkecil ada di wilayah Saguling dan Rongga.Pendataan ke lapangan dilakukan oleh pemerintah daerah berbeda dengan tahun sebelumnya data peserta KB hanya merujuk pada data provinsi. Jika melihat data tahun ini, artinya ada penambahan peserta baru yang harus kami layani,” paparnya.

Baca Juga:   Anggota DPRD KBB Terpilih Akan di Tes Urine, BNN KBB: Butuh Otak yang Sehat untuk Bisa Memikirkan Nasib Rakyat

Aam menambahkan peserta KB di Bandung Barat juga tidak sepenuhnya menggunakan alat kontrasepsi. Namun, ada juga dengan metode operasi wanita (MOW) dan metode operasi pria (MOP).

“Seperti untuk pria itu dilakukan dengan cara vasektomi atau operasi kecil. Sedangkan untuk non alat kontrasepsi ini kan masuknya metode jangka panjang bisa bertahun-tahun. Walaupun memang paktanya saat ini penggunaan alat kontrasepsi lebih besar khususnya untuk jenis suntik,” ungkapnya.

Sementara itu, Bupati Bandung Barat Aa Umbara Sutisna mengatakan bahwa pemerintah daerah saat ini ingin meningkatkan pelayanan yang lebih berkualitas dalam program KB, terutama di daerah terpencil.

Adapun salah satu upaya konkrit adalah dengan memberikan kontribusi nyata terhadap cakupan pelayanan KB dan kesehatan dalam kehidupan sehari-hari melalui kelompok dasawisma, posyandu, institusi masyarakat pedesaan (IMP), pos kesehatan desa (Poskesdes), puskesmas dan lain-lain.

“Terutama pelayanan pada daerah terpencil, tertinggal, pengungsian dan daerah perbatasan khususnya bagi mereka yang tergolong pada kategori Pra KS dan KS1,” terangnya.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password