BMKG: Equinox, Bukan Fenomena Gelombang Panas Seperti di Eropa

BMKG: Equinox, Bukan Fenomena Gelombang Panas Seperti di Eropa
Bosscha.id/Infografis

Bosscha.id – Equinox merupakan fenomena astronomi alam yang terjadi dua kali setiap tahun yaitu pada tanggal 20 Maret dan 23 September. Biasanya, Equinox terjadi saat di mana pusat Matahari yang terlihat berada tepat di atas Khatulistiwa.

Berdasarkan pengamatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), suhu maksimum tertinggi pada 23 Maret 2019 tercatat 37,6 derajat celcius terjadi di Meulaboh, Aceh.

“Equinox bukan merupakan fenomena seperti gelombang panas atau ‘heat wave’ yang terjadi di Eropa, Afrika dan Amerika yang merupakan kejadian peningkatan suhu udara ekstrim di luar kebiasaan dan berlangsung dalam waktu yang cukup lama,” jelas Deputi Bidang Meteorologi BMKG Mulyono Rahadi Prabowo, Selasa (26/3/2019) seperti dikutip Antara.

Terkait dengan informasi fenomena ini dapat menyebabkan peningkatan suhu ekstrem berakibat “Sun Stroke” dan dehidrasi. Padahal, fenomena ini tidak selalu mengakibatkan peningkatan suhu udara secara drastis maupun ekstrem.

BMKG: Equinox, Bukan Fenomena Gelombang Panas Seperti di Eropa

“Secara umum, diketahui rata-rata suhu maksimum di wilayah Indonesia berada dalam kisaran 32-36 derajat celcius,” ungkapnya.

Secara umum kondisi cuaca di wilayah Indonesia cenderung masih lembab atau basah. Beberapa wilayah Indonesia saat ini sedang memasuki masa atau periode transisi pancaroba. BMKG mengimbau masyarakat untuk tidak terlalu khawatir dengan fenomena equinox.

Baca Juga:   Selain Putus Sekolah, Inilah Fakta Menarik Lain Tentang Walt Disney

“Ada baiknya, masyarakat tetap mengantisipasi kondisi cuaca yang cukup panas dengan meningkatkan daya tahan tubuh dan tetap menjaga kesehatan keluarga serta lingkungan sekitar,” katanya.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password