Wajit Cililin, Makanan Kesukaan Bangsawan di Era Kolonial Belanda

Wajit Cililin, makanan kesukaan bangsawan di era kolonial Belanda
Bosscha.id/Infografis

Bosscha.id – Kabupaten Bandung Barat terkenal dengan potensi pariwisata. Namun ketika berada di sana, kurang rasanya jika tidak menikmati kuliner khas daerah. Ya, KBB memiliki makanan khas legendaris, yakni Wajit Cililin.

Wajit adalah suatu penganan yang terbuat dari beras ketan, gula merah dan kelapa yang dimasak menjadi satu. Pembuatan Wajit tergolong sederhana dan masih tradisional.

Konon wajit juga merupakan makanan para bangsawan. Bahkan, warga pribumi tidak diperbolehkan untuk memakan penganan tersebut, adanya penjajahan terhadap pribumi meski tidak seperti penjajahan secara politik, tetap saja warga pribumi tidak boleh untuk memakan penganan tersebut.

“Dulu pribumi hanya dibolehkan makan Gaplek (singkong yang dijemur hingga kering lalu ditumbuk untuk dibuat penganan) saja. Pribumi bisa membuat penganan tersebut asalkan disetorkan ke pihak kolonial,” ungkap Samsul Ma’arif (39) generasi keempat pelopor pengrajin wajit seperti dilansir dari Ragam.co.

Meski ada interpensi dari pihak kolonial, tapi masih berjalan dan terus berkembang. Dulu pertama diperjualbelikan dilaksa (dipersatuan) dengan cara ditanggung disekitaran Bandung.

Wajit Cililin, Makanan Kesukaan Bangsawan di Era Kolonial Belanda 19

Nama wajit berasal dari bahasa Jawa yaitu Wajik. Juwita dan Uti lah yang pertama membuat penganan yang bernama wajit tahun 1916. Dahulu orang-orang kebingungan memberi nama penganan tersebut. Namun ada yang pernah mencoba penganan yang sama persis dengan penganan yang satu ini yaitu wajik.

Kemudian ada perubahan pengucapan atau gejala bahasa dari wajik ke wajit, karena orang Sunda itu jarang menggunakan huruf K sehingga beralihlah menjadi huruf T dan munculah kata Wajit yang dikenal sampai sekarang.

“Muncul penganan yang bernama wajit ini karena melimpahnya bahan baku yang kurang dimanfaatkan terutama beras ketan,” ucap Samsul.

Setelah Juwita dan Uti meninggal wajit diteruskan oleh anak nya pada tahun 1936 yaitu HJ.Siti Romlah yang nama aslinya Irah.

“Dia yang menjadi penentang kepada kaum Belanda karena bahannya dari kita dari sawah kita, pembuatan nya oleh kita kenapa kita tidak boleh memakannya dari situlah wajit Siti Romlah bisa dijual belikan,” tuturnya.

Seiring dengan perjalanan waktu Siti Romlah secara ekonomi meningkat hingga bisa menunaikan ibadah haji tahun 50-an selama Siti Romlah di tanah Suci, pembuatan wajit ini sempat tidak di produksi.

Baca Juga:   Asam Lambu Naik, Ini 5 Cara Alami Mengatasinya

“Namun tidak lama kemudian ada saudaranya yang meneruskan tetapi resepnya tidak di berikan sehingga wajitnya berbeda dengan buatan Siti Romlah dan memiliki penggemar yang berbeda pula,” ungkapnya.

Pemasaran Masih Konvensional

Seorang pelaku UMKM asal Cililin, Buldan (35) mengungkapkan, pemasaran wajit kini masih dilakukan secara kovensional dan belum merambah pasar daring.

Buldan yang juga usaha wajit cililin secara turun temurun dari 1975 ini mengungkapkan, sulitnya pemasaran daring lantaran produk UMKM ini akan lebih mahal karena ditambah biaya pengiriman jika dipasarkan secara daring.

“Wajit biasanya ramai pembeli pada momen-momen tertentu saja,” ucapnya.

Sementara itu, Dinas Koperasi, Usaha Mikro Kecil dan Menengah Kabupaten Bandung Barat memastikan akan memfasilitasi kebutuhan bagi para pelaku UMKM di KBB. Beberapa bantuan peralatan untuk keperluan produksi hingga pemasaran produk pun diklaim sudah diberikan kepada para pelaku UMKM.

“Kita pastikan bantuan bagi UMKM sudah tak ada masalah. Termasuk segala kebutuhan mereka sekarang sudah kita penuhi,” Kata Kepala Dinas Koperasi dan UMKM KBB Ade Wahidin.

Ade mengatakan pengembangan usaha bagi para pelaku UMKM merupakan prioritas. Hal itu lantaran potensi wirausaha baru di KBB pun cukup besar.

Menurutnya, dengan diberikannya bantuan peralatan kepada sebagian pelaku UMKM diharapkan dapat mendorong pelaku UMKM tersebut menjadi berkembang.

“UMKM ini salah satu yang menjadi program pemerintah saat ini. Sekarang kita juga terus dorong agar bagaimana para pelaku UMKM ini bisa berkembang dan maju dikemudian hari,” katanya.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password