Melawan Disharmonisasi dan Komersialiasi Pendidikan Indonesia

Melawan Disharmonisasi dan Komersialiasi Pendidikan Indonesia
bosscha.id


Pendidikan merupakan komponen penting dalam sebuah pembangunan bangsa. Kemajuan ekonomi, teknologi, infrastruktur dan cita-cita pembangunan lainnya tidak akan berjalan mulus tanpa menetapkan pendidikan pada sektor utama. Manusia menjadi titik tolak kemana pembangunan akan bergerak dan diarahkan, ia menjadi fondasi yang menentukan cepat atau lambat, kuat atau lemahnya pembangunan di masa yang akan datang. Karena itu, istilah pembangunan kerap juga disandingkan dengan istilah manusia menjadi “pembangunan manusia”.

Secara filosifis, pendidikan memang memiliki tujuan utama untuk membangun manusia. Mengangkat kemampuan, derajat, dan budi manusia hingga menjadi insan yang sempurna. Cipta, karsa, dan rasa merupakan titik dimana totalitas manusia terbentuk sebagai insan kamil. Dengan cipta manusia membangun, dengan karsa manusia berkehendak, dan dengan rasa manusia menjadi humanis.

Luhurnya tujuan pendidikan ini pula yang diaplikasikan negara melalui blue print pendidikan nasional untuk membangun manusia Indonesia. Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Begitu bunyi semangat pendidikan di Indonesia yang menjadi misi ke depan. 

Namun sayangnya, tujuan luhur pendidikan seringkali dibelokan oleh logika pasar yang menggejala. Sekolah kemudian dianggap sebagai satu-satunya penyelenggara pendidikan. Dalam logika pasar, pendidikan juga menjadi sektor jasa yang harus memiliki daya saing tinggi. Oleh karena itu tidak jarang sekolah menawarkan berbagai bentuk promosi guna menjaring minat orang tua supaya menyekolahkan anaknya di tempat tersebut. Mulai dari fasilitas sekolah, kelas dan kurikulum internasional, tenaga profesional,  juga jaminan-jaminan masa depan lainnya bagi anak.

Pasar juga yang telah memebentuk pendidikan menjadi “barang” yang terpalikasi dalam bentuk praktek jual beli. Pendidikan kemudian direduksi ke dalam tujuan yang lebih sederhana seperti lulus ujian nasional atau bisa masuk perguruan tinggi negeri. Kualitas pendidikan juga seringkali diukur dengan seberapa mahal biaya yang harus dikeluarkan untuk masuk ke sekolah. Semakin mahal biaya sekolah, bayangan orang tua semakin dekat dengan gambaran ‘kesuksesan’ anak. 

Memberikan pendidikan yang layak bagi anak sekarang hanya dimaknai dengan menyekolahkan. Orang tua merasa sudah cukup ‘mendidik’ dengan memasukan anak-anaknya ke sekolah. Di sisi lain mereka juga seringkali melepaskan tanggung jawab pendidikan dengan menyerahkan anak-anak mendidik kepada sekolah. Dalam situasi ini pasar telah menciptakan disharmonisasi. Peran orang tua dan keluarga untuk mendidik anak seolah selesai tatkala mereka sudah mengeluarkan banyak uang untuk biaya sekolah anak-anaknya, seperti membayar iuran sekolah, membelikan baju dan perlengkapan, atau memberikan uang bekal jajan di sekolah. 

Potret pendidikan pada masa penjajahan
Potret pendidikan pada masa penjajahan. Net


Disharmonisasi pendidikan ini juga menjadi jawaban terhadap peristiwa-peristiwa memilukan yang sempat terjadi dalam dunia pendidikan kita. Gara-gara anaknya dicubit, ditegur, atau dihukum guru, orang tua gerak cepat melaporkan guru ke polisi. Dalam pandangan kasat mata, kekecewaan orang tua tampak karena mereka tidak terima atas perlakuan yang dialami anaknya. Namun kenyataannya, faktor uang yang telah dikeluarkan menjadi alasan tak sadar mengapa problem sekolah, guru, dengan orang tua seringkali terjadi.

Peran Orang Tua
Medidik bukan semata-mata tanggung jawab sekolah, lebih dari itu orang tua memiliki peran yang sangat besar dalam melakukan pendidikan terhadap anak-anak. Begitu besarnya peran orang tua ini, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan tanggal 1 juni sebagai hari orang tua sedunia atau yang biasa disebut Global Day of Parent.  
Sebagai wujud penghormatan kepada orang tua di seluruh dunia, Majelis Umum PBB pada tahun 2012 mengeluarkan resolusi penting dalam penempatan peran orang tua dan keluarga. Peran-peran tersebut diantaranya meliputi peran orang tua dalam memelihara dan memberikan perlindungan kepada anak, peran orang tua dalam menciptakan tumbuh kembangnya anak di dalam keluarga, serta peran orang tua dalam memberikan cinta dan kasih sayang terhadap anak. 

Peringatan 1 juni ini hendaknya menjadi refleksi bagi semua orang tua, termasuk di Indonesia terutama untuk menumbuhkan kesadaran bahwa orang tua dan keluarga merupakan komponen penting dalam penyelenggaraan pendidikan bagi anak-anak di Indonesia. Sekolah tidak lagi dipandang sebagai satu-satunya institusi yang bertanggung jawab dalam melakukan proses pendidikan.

Disharmonisasi pendidikan yang selama ini terjadi kerap muncul karena minimnya pemahaman orang tua akan peran mereka dalam pendidikan. Padahal tantangan pendidikan ke depan semakin kompleks seiring dengan perkembangan zaman. Sekolah tentu tidak dapat memenuhi semua kebutuhan anak untuk bekal mereka di kemudian hari dengan berbagai kendala, seperti minimnya fasilitas, keterbatasan waktu, atau keterbatasan tenaga pengajar. Disharmonisasi pendidikan ini mesti diselesakan dengan membangun komunikasi dua arah, sekaligus menciptakan pola kemitraan antara sekolah sebagai institusi pendidikan dengan orang tua (keluarga) sebagai institusi atau unit terkecil di dalam masyarakat.

Di abad 21, pendidikan mangarah pada berbagai pencapaian misi yang tidak bisa dicapai hanya mengandalkan sekolah. Para pakar pendidikan menyampaikan paling tidak ada 3 komponen yang harus dicapai untuk pembentukan kualitas manusia di abad 21, diantaranya pertama, pendidikan harus mampu membangun karakter baik karakter moral karakter kinerja. Kedua, pendidikan harus membangun kompetensi manusia seperti daya kritis, kreatifitas, komunikatif, serta kemampuan kolaboratif; dan ketiga, pendidikan juga harus mendorong tumbuhnya literasi, baik literasi budaya maupun literasi teknologi. 

Peran orang tua dalam melalui kemitraan dengan sekolah untuk membangun 3 komponen manusia abad 21 tersebut sangatlah besar. Kemitraan itu dapat dilakukan dengan jalan membangun komunikasi intensif antara orang tua dengan sekolah, melakukan pengawasan terpadu terhadap anak baik di sekolah, di lingkungan masyarakat, dan di dalam keluarga, serta melakukan evaluasi bersama dari seluruh proses pendidikan yang telah dilakukan.

Hal ini dapat tercapai jika semua orang tua sadar akan peran mereka dalam membantu pemerintah guna mensukseskan tujuan pendidikan. Kesadaran tersebut muncul sebagai paradigma baru bahwa pendidikan merupakan suatu gerakan, sebagaimana yang tercantum dalam Rencana Strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2015-2019; Pemerintah memang bertanggung jawab menyelenggarakan pendidikan yang sebaik-baiknya bagi semua warga negara. Namun, semua pihak dapat memberi kontribusi dalam penyelenggaraan pendidikan agar hasilnya optimal. Penyelenggaraan pendidikan harus disikapi sebagai suatu gerakan, yang mengintegrasikan semua potensi negeri dan peran aktif seluruh masyarakat. 


Ki Hajar Dewantara pernah mengatakan bahwa setiap orang harus mampu menjadi guru, dan setiap rumah harus menjadi sekolah. Dengan cara itulah kontribusi orang tua akan meningkat dan disharmonisasi yang selama ini terjadi akan terselesaikan.

Yadi Supriadi

Yadi Supriadi, Dosen Ilmu Komunikasi Fikom Universitas Islam Bandung (Unisba)

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password