Dominasi Industri di KBB, Berdampak Pada Kualitas Air yang Tak Layak Dikonsumsi Masyarakat

Dominasi Industri di KBB, Berdampak Pada Kualitas Air yang Tak Layak Dikonsumsi Masyarakat
Aktivitas indusurti mempengaruhi kualitas air. Net


Bosscha.id – Kualitas air tanah di sejumlah wilayah Kabupaten Bandung Barat yang berdomisili dekat dengan industri, kurang layak dikonsumsi warga. Banyaknya aktivitas industri mempengaruhi kualitas air menjadi keruh dan membuat air menjadi bahaya untuk dikonsumsi.

“Ini hasil pengujian pada 14 Oktober lalu. Setidaknya, ada 6 parameter dari hasil pengujian itu. Mulai dari BOD, Cadnium, Timbal, Klorin Bebas dan Deterjen. Hasilnya, air melebihi baku mutu,” kata Kepala Bidang Pengendalain Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup (P2KLH) pada Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung Barat, Aam Wiriawan, di Ngamprah, Rabu (19/12/2018).

Aam mengatakan, jika air dikonsumsi masyarakat dikhawatirkan akan berdampak terhadap kesehatan. Berdasarkan hasil penelitian dan pengujian air DLH KBB, di Waduk Saguling dan Cirata juga bahwa kualitas air masuk pada katagori kerusakan level tinggi.

Aam menjelaskan, air di sekitar waduk tersebut telah melebihi baku mutu dan mengandung logam berat akibat tercemar limbah industri dari beberapa anak Sungai Citarum.

“Ini juga hasil kajian yang dilakukan bersama BPOM pada 8 Desember lalu. Sejumlah sampel telah diambil langsung oleh Kesdam III Siliwangi. Air di waduk Saguling dan Cirata harus ada pemulihan,” terangnya.

Seperti diketahui, keberadaan industri tekstil di Kabupaten Bandung Barat saat ini memang sudah over capacity. Dengan menjamurnya industri tersebut membuat keberadaan sungai yang tak jauh dari kawasan industri kerap tercemar oleh limbah cair industri.

Setidaknya, ada 5 sungai yang paling rawan terkontaminasi, yakni sungai Cipeusing, Cihaur, Cikandang, Ciburandul dan Cimerang.

Baca Juga:   Proyek KCIC Rusak Pipa Air Milik BUMD KBB

“Seperti sungai Cihaur dan Cipeusing, misalnya itu tercemar oleh limbah cair industri. Sebab, faktanya sekarang pun itu masih ada perusahaan yang bandel membuang air limbah ke sungai,” kata Kepala DLH KBB Apung Hadiat Purwoko.

Apung menambahkan, saat ini di KBB sudah tidak mungkin industri baru. Sebab, kata dia, jika dipaksakan berdiri maka itu akan berdampak terhadap kerusakan lingkungan.

Sementara itu, Kabid Perikanan pada Dinas Perikanan dan Peternakan KBB Chandra Suwarna memastikan ikan di Saguling dan Cirata aman dikonsumsi oleh masyarakat dan tidak semua mengandung logam berat. Sehingga ikan-ikan di dalamnya masih ada yang layak dikonsumsi.

“Kami juga melakukan uji laboratorium dan hasilnya masih di bawah baku mutu. Ikan-ikan di keramba masih aman dikonsumsi namun masyarakat tetap harus waspada,” katanya.

Chandra menambahkan,  saat ini pun sejumlah keramba jaring apung baik di Saguling maupun Cirata sudah ditertibkan Satgas Citarum.

” Hal ini pun akan berdampak pada peningkatan kualitas air di kedua waduk tersebut,” kata Chandra.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password