Minim Siswa, Enam SD di KBB Terpaksa Dimerger

Minim Siswa, Enam SD di KBB Terpaksa Dimerger
Ilustrasi siswa Sekolah Dasar. Republika.co.id


Bosscha.id – Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Bandung Barat rencananya akan menggabungkan (merger) enam sekolah dasar di Kabupaten Bandung Barat. Merger terpaksa dilakukan lantaran jumlah siswanya yang minim.

Kepala Bidang SD pada Dinas Pendidikan KBB Jalaludin Ishak menyebutkan, keenam SD tersebut ada di Kecamatan Padalarang, Cipeundeuy, dan Lembang. Sementara,penggabungan sekolah-sekolah ini secara resmi menunggu surat keputusan bupati.

“Jadi nanti akan menjadi 3 SD, masing-masing gabungan dari 2 SD,” katanya di Ngamprah, Kamis (13/12/2018).

Jalaludin menjelaskan, penggabungan sekolah-sekolah tersebut mengikuti berbagai ketentuan, di antaranya sudah disepakati para orangtua siswa, pemerintah desa setempat, serta dewan pendidikan. Selain itu, Dinas Pendidikan juga, kata dia, kemudian mengevaluasinya untuk kemudian dilakukan merger dengan SK bupati.

Jalaluddin mengungkapkan, merger sekolah menjadi salah satu alternatif untuk mengatasi minimnya siswa.

“Namun, hal itu juga harus mempertimbangkan hal-hal lainnya, seperti jarak antarsekolah yang akan digabungkan.Intinya, merger ini harus satu tujuan, yakni untuk efektivitas kegiatan sekolah. Kalau jarak antarsekolah berjauhan, tidak mungkin dimerger karena akan menimbulkan masalah baru,” terangnya.

Menurut Jalaluddin, para guru yang sekolahnya digabung bisa bersama-sama mengajar di sekolah tersebut. Apalagi, saat ini jumlah guru berstatus ASN di setiap sekolah minim.

“Namun jika kelebihan guru, tentu akan kami carikan alternatifnya, seperti memindahtugaskan guru tersebut ke sekolah lain. Hal-hal teknis semacam itu bisa diatasi,” katanya.

Baca Juga:   Bandung Barat Kekurangan Pustakawan

Sementara itu, Kepala Unit Pelaksana Teknis Pendidikan SD Kecamatan Lembang Iing Hartawan sebelumnya mengungkapkan, dua sekolah yang dimerger di wilayahnya yaitu SD Inpres Lembang dan SDN 1 Lembang. Hal ini disebabkan jumlah siswa SD Inpres hanya 45 orang yang terbagi ke dalam 6 rombongan belajar.

“Ini juga tentu tidak efektif lantaran seorang guru setidaknya harus menangani 20 siswa dalam satu kelas/rombel,” ujar Iing.

Iing menambahkan, saat ini, SD Inpres dan SDN 1 Lembang berada dalam satu areal dengan SDN 7 Lembang. Namun untuk SDN 7 Lembang, tidak dimerger karena jumlah siswa mencukupi.

“Jadi, hanya SD Inpres dan SDN 1 Lembang yang dimerger menjadi SDN 1 Lembang. Namun, bangunan SD Inpres tetap digunakan,” katanya. 

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password