Ini Penyebab UMKM di KBB Sulit Berkembang

Ini Penyebab UMKM di KBB Sulit Berkembang
WAKIL Bupati Bandung Barat Hengki Kurniawan saat beroto bersama salah pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) KBB, di Lapang Parkir Gedung Utama Komplek Perkantoran KBB, Mekar Sari Kecamatan Ngamprah, Selasa (23/10/2018).


Bosscha.id – Akibat sulitnya mendapatkan bantuan dari pemerintah daerah, saat ini para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kabupaten Bandung Barat sulit berkembang.  Saat ini, pemasaran produk pun terpaksa masih dilakukan secara kovensional dan belum merambah pasar daring.

“Sekarang memang terkendala modal seperti untuk pembelian alat dan perlengkapan. Apalagi saat musim hujan seperti sekarang, bahan baku berupa kelapa dan jagung harganya melonjak,” kata seorang pelaku UMKM asal Cililin, Buldan (35), Senin (3/12/2018).

Buldan yang juga berjualan wajit ini mengungkapkan, sulitnya pemasaran daring lantaran produk UMKM ini akan lebih mahal karena ditambah biaya pengiriman jika dipasarkan secara daring.

Sementara kata dia, sudah lama tak mendapat bantuan dari pemerintah daerah, dalam hal ini Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah. Adapun, selama ini, dirinya hanya mendapatkan pelatihan saja dari dinas tersebut.

“Bantuan pelatihan sempat ada, yaitu seputar pemasaran. Kalau bantuan modal terakhir pada 2015, itu pun berasal dari kementerian,” ujar Buldan.

Menurut Buldan, wajit cililin biasanya ramai pembeli pada momen-momen tertentu. Ia mengatakan, denga pemerintah daerah yang berencana memasarkan produk-produk UMKM ke Bali diharapkan itu bisa meningkatkan ekonomi dari para pelaku UMKM ini.

“Termasuk katanya, ada juga wacana kerja sama dengan minimarket untuk bisa memasarkan produk-produk UMKM. Namun hingga kini, memang belum diketahui perkembangannya,” ujar Buldan yang usaha wajit cililin secara turun temurun dari 1975 ini.

Sebelumnya masalah UMKM ini, dirosoti Anggota Komisi II DPRD KBB Sunarya Erawan. Ia mengungkapkan, pemerintah daerah seharusnya bisa menjamin pengembangan para pelaku UMKM.

Adapun ia menyebutkan, Dinas Koperasi, Usaha Mikro Kecil dan Menengah serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan harus bisa memfasilitasi pemasaran produk-produk UMKM.

“Makanan-makanan khas lokal seperti wajit, itu bagaimana harus dibuat kemasan yang lebih bagus dan dapat menarik pembeli, atau menimal dapat diterima oleh toko-toko modern. Pembinaan ini merupakan tugas dinas-dinas terkait,” kata Sunarya.

Baca Juga:   Di Bandung Barat Masih Ada Perusahaan Belum Penuhi UMK?

Sementara itu, Dinas Koperasi, Usaha Mikro Kecil dan Menengah Kabupaten Bandung Barat memastikan akan memfasilitasi kebutuhan bagi para pelaku UMKM di KBB. Beberapa bantuan peralatan untuk keperluan produksi hingga pemasaran produk pun diklaim sudah diberikan kepada para pelaku UMKM.

“Kita pastikan bantuan bagi UMKM sudah tak ada masalah. Termasuk segala kebutuhan mereka sekarang sudah kita penuhi,” Kata Kepala Dinas Koperasi dan UMKM KBB Ade Wahidin.

Ade mengatakan pengembangan usaha bagi para pelaku UMKM merupakan prioritas. Hal itu lantaran potensi wirausaha baru di KBB pun cukup besar. Menurutnya, dengan diberikannya bantuan peralatan kepada sebagian pelaku UMKM diharapkan dapat mendorong pelaku UMKM tersebut menjadi berkembang.

“UMKM ini salah satu yang menjadi program pemerintah saat ini. Sekarang kita juga terus dorong agar bagaimana para pelaku UMKM ini bisa berkembang dan maju dikemudian hari,” katanya.

Berdasarkan data Dinas UMKM untuk wirausaha lama yang sudah terdaftar jumlahnya mencapai 20.800 UMKM. Wirausaha baru banyak bergerak di bidang kuliner, fashion dan kerajinan. Sementara mereka pun harus mampu bersaing dengan pelaku lainnya di Jawa Barat.

“Kalau ini UMKM yang sudah terdaftar di kami. Artinya jumlah 20 ribuan UMKM ini memang pelaku usaha yang sudah lama dan berpengalaman. Sementara yang baru terus kita lakukan pendataan,” ujar Ade.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password