Minim Bantuan Pemerintah, Jumlah TBM di KBB Berkurang

Minim Bantuan Pemerintah, Jumlah TBM di KBB Berkurang
Anak-anak tengah membaca di Taman Bacaan Masyarakat (TBM). arsip.lombokita.com


Bosscha.id – Sejumlah taman bacaan masyarakat (TBM) di Kabupaten Bandung Barat  minim bantuan dari pemerintah daerah. Dari 55 jumlah TBM, saat ini hanya ada 27 TBM yang masih bertahan.

Penasihat TBM Kabupaten Bandung Barat, Wildan Awaludin mengungkapkan, beberapa TBM sudah tidak aktif lantaran terkendala biaya operasional. Sementara, untuk bantuan operasional, selama ini masih dilakukan secara swadaya dan saling berbagi antar-TBM di setiap daerah.

“Termasuk ada juga bantuan dari swasta. Kami harap bantuan dari pemerintah juga bisa ditingkatkan,” ujar Wildan, di Lembang, Senin (10/11/2018).

Selama ini keberadaan TBM memang sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Sebab, menurut Wildan, saat ini dunia literasi memang tak fokus pada membaca buku di perpustakaan. Namun, menerapkan bacaan tersebut menjadi keterampilan yang menunjang kehidupan masyarakat.

Ia menjelaskan, ada tiga fokus literasi yang digalakkan TBM, yaitu pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.

“Untuk ekonomi, sudah banyak TBM yang bergerak di UMKM. Dan, itu terinspirasi dari buku bacaan di perpustakaan,” sebutnya.

Sementara itu, Elpa Andriawan, pengurus TBM Tali Aksara Cipongkor juga mengungkapkan, keberadaan TBM di masing-masing daerah bisa memberdayakan masyarakat.

Ia pun mencontohkan, TBM Tali Rasa Aksara di Cipongkor yang kini sudah memiliki produk berupa peralatan rumah tangga yang terbuat dari bambu, seperti gelas dan baki hingga berbagai kerajinan.

“Untuk satu unit gelas bambu, dihargai Rp 35.000. Hal ini terbilang cukup mahal lantaran biaya produksinya juga tinggi. Namun soal kualitas dan ketahanan produk, mereka berani bersaing,” ungkapnya.

Baca Juga:   Liburan Akhir Tahun, Tak Perlu Hingga ke Luar Negeri, Cukup di Lembang yang Memiliki Nuansa Jepang, China, Thailand, Korea dan Afrika

Elpa menambahkan, untuk pemasaran produk tersebut saat ini sudah tembus ke luar daerah karena dilakukan secara daring.

“Untuk pemasaran memang sudah ke luar, tetapi masih terbatas. Soalnya, harganya masih besaing juga dengan produk sejenis di pasaran,” ungkap Elpa.

Dengan demikian Elpa menjelaskan,sejumlah TBM di KBB kini tak hanya berkutat pada koleksi buku di perpustakaan. Namun, juga telah merambah ke dunia usaha kecil dan menengah.

Bahkan produk-produk tersebut dibuat oleh para anggota TBM secara autodidak. Keterampilan tersebut didukung oleh sejumlah buku perpustakaan koleksi mereka.

“Dari hasil bacaan itulah, mereka terinspirasi menghasilkan produk UMKM. Beberapa di antara buku bacaan memang menunjang pengetahuan dan keterampilan kami untuk menjalankan usaha ini. Jadi memang, membaca itu banyak manfaatnya,” terangnya. 

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password