Jumlah Pengidap HIV/AIDS di KBB Terus Meningkat, Pemerintah Kemana?

Jumlah Pengidap HIV/AIDS di KBB Terus Meningkat, Pemerintah Kemana?
Ilustrasi HIV/AIDS.Net


Bosscha.id – Jumlah penderita human immunudeficiency virus (HIV)/Acquired Immune Deficiensy Syndrome (AIDS) di Kabupaten Bandung Barat (KBB) terus meningkat setiap tahun. Dengan demikian penularan virus HIV/AIDS  harus menjadi perhatian Pemkab Bandung Barat.

Ketua Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Kabupaten Bandung Barat Lilli Koemasdi menyebutkan bahwa data kumulatif sejak 2011-2018, jumlah warga yang tertular mencapai 323 orang. Adapun hingga Juli 2018 ini ada 43 orang yang positif mengidap HIV/AIDS.

“Jumlah penderita ini diprediksi akan bertambah. Sebab, kita juga masih menunggu laporan dari sejumlah puskesmas,” katanya di Batujajar, Rabu (5/9/2018).

Menurut Lilli hampir di semua Kecamatan di KBB telah ditemukan kasus HIV/AIDS. Dengan meningkatnya penyebaran tersebut, sehingga cukup memprihatinkan. Ia menyebutkan, 3 Kecamatan seperti Padalarang, Cikalongewtan dan Lembang merupakan paling tinggi terjadinya kasus HIV/AIDS ini.

“Dan dalam kasus yang ditemukan ini,  usia rata-rata 25 tahun sampai 49 tahun dengan persentase sekitar 67 persen. Termasuk di umur bawah 4 tahun dengan persentase 3 persen. Lebih prihatin lagi, dari penderita ini ada yang sampai meninggal dunia,” jelasnya.

Lilli mengungkapkan, bertambahnya jumlah angka penderita HIV AIDS di KBB ini, dipicu oleh beberapa faktor seperti tren pergaulan bebas dimasyarakat. Selain itu, masih rendahnya kesadaran dari masyarakat yang positif mengidap HIV/AIDS untuk memeriksakan diri ke Puskesmas atau KPA.

“Hubungan seks bebas menjadi paling tinggi dalam kasus ini. Bahkan secara persentase ini mencapai 54 persen. Disusul 27 persen yakni karyawan swasta dan ibu rumah tangga yang mencapai 20 persen,” katanya.

Menurut Lilli dengan terus meningkatnya kasus HIV/AIDS di KBB. Sehingga pada tahun ini KBB juga memiliki Peraturan Daerah (Raperda) tentang pencegehan dan penanggulangan HIV/AIDS. Perda tersebut diharapkan bisa mengatasi masalah penyebaran HIV/AIDS di KBB.

“Saat ini sudah ada perda tentang penaggulangan aids ini. Perda ini dikeluarkan sejak tahun 2017. Kami berharap tahun depan sudah ada pergub,”ujarnya.

Lebih lanjut ia juga menambahkan, bahwa di tahun 2019 mendatang kebutuhan anggaran dari dana hibah Pemkab Bandung Barat untuk penanggulangan kasus HIV/AIDS bisa terealiasi. Sebab, untuk tahun ini tidak ada anggaran khusus untuk penanggulangan HIV/AIDS.

“Sebetulnya di kab/kota wajib dianggarkan untuk penanggulangan hiv aids. Namun, untuk tahun ini kita tidak mendapatkan anggaran itu. Jika dilihat kebutuhan memang kita membutuhkan anggaran sebesar Rp 600 juta. Ini untuk penjangkauan dan pendamping ke masyarakat,” kata Lilli.

Baca Juga:   Lelang Jabatan di KBB: Kursi Kepala DPPKBP3A Jadi Rebutan

Pada 2018, HIV/AIDS Renggut 25 Nyawa

Sebanyak 25 penderita HIV /AIDS di Kabupaten Bandung Barat dilaporkan meninggal dunia. Dari jumlah itu, tiga di antaranya terjadi pada 2018 ini.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Barat Hernawan Wijayanto menyebutkan, kasus meninggalnya penderita AIDS di KBB mulai ditemukan pada tahun 2011. Adapun total kasus HIV/AIDS yang ditemukan di KBB kini mencapai 323 kasus.

“Dari tahun 2011 sampai tahun 2018 ini, setidaknya ditemukan 323 penderita HIV AIDS. Sementara, 4 meninggal di tahun 2017 dan 3 meninggal di tahun 2018 ini. Secara kumulatif total yang meninggal mencapai 25 orang,” sebutnya.

Menurut Hernawan, dengan adanya warga KBB yang dinyatakan positif mengidap HIV/AIDS. Pihaknya pun menyarankan agar warga datang ke puskesmas. Apalagi, menurutnya 32 puskesmas di KBB sudah bisa melayani pemeriksaan HIV/AIDS.

“Khusus masyarakat yang bersiko, kami sarankan untuk datang ke puskesmas. Sebab di puskesmas masyarakat juga bisa langsung ditangani seperti konseling dan diberikan obat secara rutin,” kata Hernawan.

Hanya 1 Rumah Sakit yang Melayani Pasien HIV/AIDS

Rumah Sakit Umum Darah (RSUD) Cikalongwetan, Kabupaten Bandung Barat saat ini menjadi satu-satunya RSUD di KBB yang bisa melayani pasien orang dengan HIV/AIDS (ODHA) dan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).

Sementara dua rumah sakit lainnya, yakni RSUD Lembang dan RSUD Cililin belum membuka layanan tersebut.

Direktur RSUD Cikalongwetan Ridwan Abdullah Putra menyebutkan, khusus ODHA, ada tiga pasien yang tengah menjalani perawatan dan konsultasi di rumah sakit tersebut. Adapun pasien ODHA ditangani di klinik khusus.

“Khusus untuk pelayanan terhadap pasien ODHA, sekarang kami sediakan Klinik Seruni,” ujarnya.

Ridwan mengatakan, bahwa pasien ODHA juga membutuhkan pelayanan seperti pasien lainnya.Dengan demikian, penanganan ODHA di Cikalongwetan bisa dilakukan oleh petugas medis yang ada.

“Yang jelas, semua tenaga medis harus siap melayani pasien tersebut,” ucapnya.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password