Krisis Ekonomi, Picu Angka Pernikahan Dini di Wilayah Selatan KBB

Krisis Ekonomi, Picu Angka Pernikahan Dini di Wilayah Selatan KBB
Angka pernikahan dini masih menempati posisi teratas di KBB. Net


Bosscha.id – Sejumlah Kecamatan di wilayah selatan Kabupaten Bandung Barat yang meliputi Gununghalu, Cipongkor, Sindangkerta dan Rongga menempati posisi teratas dalam menyumbang angka pernikahan dini di Kabupaten Bandung Barat.

Masih tingginya angka pernikahan dini di wilayah tersebut, dipengaruhi oleh kondisi ekonomi keluarga dan banyaknya anak-anak yang tak mampu melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.

“Angka pernikahan dini terjadi di Bandung Barat sebetulnya disebabkan banyak faktor dengan permasalahan yang ada, terutama yang menyangkut permasalahan ekonomi dan pendidikan,” kata Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pada Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Anak KBB Euis Siti Jamilah di Ngamprah, Rabu (22/8/2018).

Berdasarkan data dari DPPKBP3A KBB pada tahun 2015 angka perkawinan dini di KBB berjumlah 7.884 perkawinan dengan usia 19 dan 18 tahun kebawah. Sementara pada tahun 2016 berjumlah 4.759 perkawinan dini.

Meski demikian, Euis mengklaim bahwa angka pernikahan dini KBB saat ini menurun. Menurutnya berdasarkan data dari DPPKBP3A pada tahun 2018, angka pernikahan dini di KBB berjumlah 1.000 perkawinan.

“Dari tahun ke tahun tren angka pernikahan ini di Bandung Barat menurun. Faktor menurunnya angka ini, tidak terlepas dari meningkatnya SDM melalui pendidikan. Faktanya, angka 1.000 pada tahun ini, itu juga hanya terbagi di 16 kecamatan,” ungkap Euis.

Menurut Euis pernikahan pertama kali sebaiknya minimal umur 19 tahun untuk perempuan dan 23 tahun untuk laki-laki. Namun, saat ini tetap saja bahwa masih ada masyarakat yang terpaksa menikah di bawah batas usia tersebut.

Pemerintah daerah, kata dia, saat ini berupaya menekan pernikahan dini dengan melakukan sosialiasi sampai ke tingkat desa.

Baca Juga:   Anggota DPRD KBB Terpilih Akan di Tes Urine, BNN KBB: Butuh Otak yang Sehat untuk Bisa Memikirkan Nasib Rakyat

“Setiap tahun kita turun ke lapangan melakukan sosialiasi untuk memberikan edukasi tentang pernikahan dini. Hampir semua di 16 kecamatan sudah kita lakukan sosialiasi,” kata Euis.

Selain itu, kata Euis di KBB juga saat ini ada 2.700 perempuan menjadi kepala keluarga (Pekka). Ribuan perempuan tersebut terpaksa menjadi tulang punggung keluarga karena berbagai alasan, seperti ditinggal mati suami, bercerai dan suaminya sakit. Menurutnya, para perempuan tersebut saat ini sudah masuk dalam kelompok Pekka di KBB.

“Tahun ini ada 49 kelompok yang mendapatkan bantuan dari pemerintah. Dengan masing-masing kelompok mendapatkan bantuan uang sebesar Rp 10 juta,” ungkapnya.

Seperti diketahui, berdasarkan data statistik perkawinan di Kabupaten Bandung Barat per tahun rata-rata mencapai angka 13.000 ( Tiga belas Ribu ) pasang. Angka tersebut dinilai cukup fantastis dan sangat berpengaruh terhadap kemungkinan adanya perubahan-perubahan sosial masyarakat.

“Oleh karena, itu perlu diantisipasi sejak dini, baik berupa pemahaman seseorang terhadap konsep berumah tangga, bagaimana cara menangani konflik dalam keluarga dan penanganan cara mendidik anak dengan baik dan benar,” kata Kepala Seksi (Kasi) Bimas pada Kementrian Agama (Kemenag) KBB Saripudin. 

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password